Andai saja, aku ini adalah seorang anak pejabat atau pesohor terkenal dan orang penting di negara ini, aku pasti akan menomor satukan pendidikan… karena pendidikan itu salah satu penentu kualitas bangsa !!! Kadang aku juga berpikir, andaikan pendidikan di Indonesia sama seperti pendidikan di Luar Negeri .. seperti Amerika, Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Inggris, dan sebagainya. Pasti akan menghasilkan generasi-generasi bangsa yang cerdas…
Aku sendiri pun malu dengan bangsaku, bahkan Kotaku, pada pendidikan yang ada dan Tak bisaku bayangkan. Padahal kotaku adalah kota yang kecil dan sederhana. Bukan kota-kota besar pada umumnya yang ada di Indonesia. Tapi kenapa, mutu pendidikan di kotaku masih kurang. Bahkan mungkin perekonomian rakyat, juga begitu, mungkin bagi sekolah-sekolah fasilitas sudahlah lengkap, metode pembelajaran mencakup sistem-sistem pendidikan dan ajaran yang baik, setiap sekolah dari berbagai tingkatan memiliki visi dan misi yang berbeda-beda, sehingga orang dapat memilih pendidikan mana yang bagus dan cocok di bawah garis kemiskinan.
* * *
Letak sekolahku mungkin cukup strategis dan pulmonaris. Karena dekat dengan berbagai pusat kegiatan kota dan berbagai macam tempat ibadah, mulai dari Masjid, Musholla, Gereja Katolik, Gereja Kristen, Gereja Jawa, Klenteng, Wihara, serta berbagai etnis golongan yang beragam hidup rukun dalam satu kota yang sederhana ini. Apalagi daerah sekitar sekolahku.
Namun, siapa sangka, di balik itu semua di daerah dekat sekolahku ada sebuah tempat semacam untuk penampungan anak jalanan dan anak yang sudah putus sekolah. Sebuah yayasan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak yang tidak mampu. Khususnya anak jalanan dan yang sudah putus sekolah. Wah… hebat sekali !! sebuah hal yang tidak aku duga sebelumnya, ternyata masih ada juga anak-anak yang kurang perhatian akan pendidikannya.
Dan yang lebih mengagetkannya lagi Yayasan itu berdiri dan dibina oleh orang luar wilayah itu. Luar kota, bahkan luar negeri, ya turis-turis asing berparas Bule, bahkan mungkin ada juga yang Chinese dan Arab yang mendirikan Yayasan tersebut serta yang memberikan pelajaran kepada mereka adalah orang-orang asing itu. Sungguh Memalukan!! Di mana letak kebersamaan dan rasa Nasionalisme penduduk sekitar bahkan warga Indonesia … kenapa orang asing yang peduli dan mereka juga bertanya padaku. Kenapa para orang tua sangat mewajibkan anaknya untuk bekerja mencari uang dari pada bersekolah mengukir prestasi dan apa yang harus aku jawab.. kemudian mereka bertanya kembali apa pemerintah dan penduduk sekitar tidak merasa kasihan terhadap keadaan anak-anak jalanan yang putus sekolah, dan tidak tahu tentang arti pentingnya pendidikan?
Kemudian para Bule itu kembali bercerita tentang apa yang ada dalam yayasan itu. Sebenarnya mereka semua adalah calon-calon penerus bangsa yang hebat, cemerlang, dan berkualitas. Karena mereka mempunyai kecerdasan IQ yang tinggi, kreativitas yang baik dan bakat-bakat yang mencolok. Tapi kenapa tidak di jaga dan dikembangkan dengan baik? Kenapa malah ditelantarkan seenaknya…
* * *
Mendengar cerita dari mereka, hati sedikit terbuka.. aku ingin sekali membantu mereka semua yang kesusahan apalagi masih se-Saudara, se-Bangsa, dan se-Tanah Air.. tapi dengan apa aku bisa membantu? Pintar, biasa saja, prestasi, pas-pasan, kreativitas, datar, daya ingat, parah, kaya, enggak! Hidupku sederhana. Dengan apa aku bisa bantu?? Apa yang bisa aku tonjolkan untuk menolong mereka…?
Malam itu benar-benar malam yang membingungkan pikiranku dan menggelisahkan hatiku, Tuhan… tolonglah hambamu ini, berilah jalan keluar yang terbaik dari kebimbangan hati ini. Berilah petunjuk yang baik… lindungilah anak-anak bangsa ini yang terlantar dan kesusahan berikanlah jalan keluar dan kemudahan jalan hidup yang baik, bagi mereka semua yang kesusahan… Tuhan, engkaulah Yang Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pendengar… hanya kepada-Mulah sejuta doaku panjatkan. Segenggam harapan untuk anak bangsa kutuliskan pada-Mu… Dengarlah panjatan doa hambamu ini…
Tak terasa kebimbangan hati menghanyutkan pada mimpi-mimpi yang indah.
* * *
Keesokan hari di sekolah. Aku berpikir “kenapa aku tidak bermusyawarah untuk mengajukan usulanku pada OSIS dan Guru-guru pembimbing… padahal aku kan salah satu anggota OSIS..!!! kenapa tidak aku coba..!!” usul hati ini…
Jam istirahat pun datang !! aku segera keluar kelas dan menuju ke kelas sebelah untuk menemui sang ketua OSIS “Elsa..!! rapat OSIS jadi ditunda gag?!” tanyaku pada Elsa sang ketua OSIS. “emh… kurang tahu, tunggu aja informasinya atau kamu tanya aja ke bagian koordinasi OSIS!!!” jawab menjelaskan “Oh… gitu ya? Emh, Sa sebenarnya aku punya usul, dan aku pengen banget usulku ditampung. Dan dilaksanakan dengan baik!! Dan secepat mungkin, tapi kalo memang harus di … ya, tak apalah…” ucapku pada Elsa “Ya, mungkin sih, enggak jadi, masalahnya aku kurang tahu tapi kalau usul kamu itu positif pasti sangat diperhatikan dan akan segera dilaksanakan” berdoa aja enggak jadi di tunda!” tegasnya “Ok. Thanks ya Sa!!” jawabku singkat dan segera pergi meninggalkan Elsa.
Langkah demi langkahku berjalan di sepanjang koridor kelas 8. Namun langkahku terhenti saat mataku tak sengaja tertuju pada Mading Sekolah dan langkah ini pun kembali beranjak berjalan menuju Mading Sekolah. Bola mataku bergerak ke kanan dan ke kiri “Lomba Seni Sastra dan Budaya Tingkat SMP!!” ucapku setelah berhenti menatap papan Mading Sekolah… “Kenapa aku tidak mencobanya? Siapa tahu beda dan beruntung. Khan lumayan juga hadiahnya, bisa membantu anak-anak kurang mampu, yang ada di Yayasan itu…” pikir dalam hati, teringat akan nasib anak-anak jalanan itu…
Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke singgasana istanaku, yaitu kamarku dan saat itu juga terlintas di benakku dengan ajang lomba sastra dan seni yang kulihat di Mading Sekolah siang tadi. Banyak sekali teman-temanku dan guruku berpendapatan tentang diriku. Jika sebenarnya aku itu pandai sekali merangkai kata-kata berani menghiasi kalimat dengan baik dan indah, serta memiliki apresiasi sastra yang tinggi dan percaya diri dengan apa yang aku apresiasikan !! pikirku dalam lamunan panjang ini, dan mengapa aku tidak mencoba untuk membuktikan dan mengembangkan apa yang mereka semua katakan padaku.
Dan saat itu juga aku segera mengatur apa yang akan aku apresiasikan, “ah…kenapa aku tidak mencoba membuat karangan puisi, artikel dan pidato saja? Dan mengapresiasikan di depan publik dengan mengirimkan hasil karyaku, atau dengan mempublikasikan di depan umum secara langsung dan terbuka. Sekalian untuk mengisi waktu luangku dan mengasah kreativitasku.
Dengan tekad yang bulat, berbekal pada optimisme dan harapan yang tinggi. Aku segera membuatnya dengan sebaik mungkin, agar menjadi The Champions. Namun, apabila gagal itu tak masalah, mungkin itu belum saatnya bagiku dan belum kesempatan yang baik untukku. Dengan penuh semangat ’45 untuk anak bangsa yang kurang beruntung ku selesaikan satu persatu.
Melelahkan memang, tapi enjoy dan harus tetap semangat !! jam dinding kamarku menunjukkan pukul 16.38 tak berapa lama Nokia 5310 ku pun berbunyi tanda pesan masuk dari Aiman bagian koordinasi OSIS di sekolahku, “Tanya…Rapat OSIS gak jadi hari Kamis, tapi diganti hari Rabu. Tetap ditunda, tapi Cuma ganti hari aja!! Cz rapat MGMP guru-guru diajukan hari Rabu… maaf ea!! Thanks sebelum na” langsung saja aku pencet-pencet tombol yang ada di hp-ku itu “OK!! Thanks juga…” balasku dengan sms. Hari Kamis diganti Hari Rabu? Tetap aja di tunda rapatnya paling cuman beda 1 hari saja. Padahal kan aslinya hari Senin!! Tapi tak apalah…yang penting nanti usulku dapat diterima semuanya…” batinku dalam hati.
* * *
Sore sekitar jam 16.00 aku pergi ke sekolah dan menuju ruang OSIS, guna melakukan Rapat OSIS. “Saudara-saudaraku… tunggulah aku, aku akan mengusulkan sesuatu kepada teman-temanku semua. Untuk nasib kalian agar kelak lebih baik dari yang sekarang dan mendapatkan apa yang seharusnya kalian dapatkan. Tunggulah aku pada waktu yang berjalan!!” teringat diriku akan saudara-saudaraku yang di Yayasan itu, yang memberiku semangat berjalan agar cepat sampai di Ruang Musyawarah OSIS untuk membahas usulku…
“Jengrekku..!!” suara pintu yang ku buka terdengar keras “maaf aku telat ndag?” tanyaku pada semuanya yang ada di dalam ruangan. “Enggak!! Kurang 8 menit lagi rapat dimulai. Makanya cepat masuk!!!” perintah Syahrial Sang Wakil Ketua OSIS padaku. “oh…Makasih! Tapi kok sudah lumayan rame, dan kenapa suasananya malah tenang?” tanyaku kembali “Ya, lagi pada sibuk cari tarian budaya!!” tegas Elsa. “buat apa toh?!” sambungku. “emh…kan, ntar bakal ada ajang lomba seni sastra dan budaya! Nah, sekolah kita akan ikut serta memeriahkan acara tersebut dengan catatan menjadi peserta” jelas Aiman padaku.
“oh…memang mau pada nampilin apa?!” sahutku. “kita akan menampilkan kolaborasi antara tarian budaya daerah dengan dance, gak hanya itu, salah satu dari kita akan menjadi pembawa acara di sana karena sekolah kitalah yang ditunjuk untuk itu. Makanya kita ini sedang nyari pakaian, lagu, dan tarian yang tepat”. Jelas Elsa kembali menegaskan padaku. “pantas, tenang!! Pada serius semuanya dong!!” jawabku setelah paham mendengar penjelasan dari mereka, 8 menit telah berlalu. Rapat pun di mulai segera aku menyiapkan kata-kata dan pemilihan yang tepat, baik dan sopan agar pendapatku diterima.
Setelah ketua membuka rapat “Sekretaris telah selesai mengabsen. Bendahara sudah menerima uang kas. Dan aku sudah menata apa yang akan aku sampaikan dengan matang. Dan kemudian ketua OSIS memberiku kesempatan untuk mengajukan usul “to the point aja ya, bagaimana kalau sekolah kita melakukan galang dana dengan tema “koin untuk pendidikan anak bangsa yang kurang mampu!” dan nanti Dana tersebut kita kasihkan kepada yayasan pendidikan yang ada tak jauh dari sekolah kita!! gimana?” usulku pada mereka. Dari merekapun diam membisu. Kemudian acungkan tangan dari Linda mengisikan suara pada ruangan sunyi itu. “Maksud kamu apa? Kok tiba-tiba langsung galang dana untuk yayasan pendidikan? Ceritakan dulu apa masalah apa maumu, dan jalan keluar apa yang bisa kita lakukan ?! Usul Linda.
Kemudian aku mencoba mengikuti saran Linda, ku jelaskan semuanya dari A-Z dari 1-100, dari maksud sampai tujuanku. Dan ternyata usulku tidak sia-sia. Mereka semua setuju dan sepakat dengan usulku dan usulku akan dilaksanakan hari Jumat nanti dengan tema dan peralatan yang sudah kami tentukan, Serta hari Kamis sepulang sekolah nanti kita akan mempersiapkan semuanya, dan meminta izin serta saran pada Guru pembimbing dan Guru-guru lainnya. Hatiku sangatlah berbunga-bunga karena usulku banyak yang menyetujui dan meresponnya dengan baik dan positif.
***
Hari penggalangan danapun tiba. Semua anggota OSIS sibuk dengan tugasnya masing-masing. Waktu setelah K3 di pergunakan kami semua untuk mengumpulkan anak-anak di SMP ke tengah lapangan. Dan duduk di tengah lapangan sesuai kelas masing-masing. Dan akupun menjelaskan maksud dan tujuan kami dari OSIS mengadakan acara galang dana seperti ini. Dengan adanya “koin untuk pendidikan anak bangsa yang kurang mampu!” betapa bahagianya hatiku karena semuanya mendengarkan ku saat membawakan pidato dan memberikan inti maksud, tujuan, dan permasalahannya.
Ternyata mereka sangat berantusias sekali memberi koin-koin untuk para saudaranya yang kekurangan dan butuh pendidikan. Terbukti sekali jiwa sosial mereka sangat tinggi , Rasa kepedulian mereka sangatlah besar. Dan semangat kebersamaan mereka semua sangatlah indah, ditambah lagi para Guru memeriahkan support dan respons yang baik dan plus kepada semuanya. Tak hanya itu para Guru menyumbangkan sebagian dananya, tak terkecualipun para karyawan, staff TU, anggota OSIS lainnya, begitu pun aku. Oh…. Sungguh indah semangat kebersamaan kita untuk berbagi….
Sepulang sekolah aku dan anggota lainnya menghitung jumlah uang yang telah terkumpul. Dan ternyata dana yang terkumpul sebesar Rp. 4.990.000 karena nanggung aku menambahkan Rp. 10.000,-, agar menjadi Rp. 5.000.000,- wah “banyak juga!” ucapku dengan nada yang bangga. Dan rencananya uang ini akan dibelikan buku-buku pelajaran, buku panduan belajar dan peralatan tulis yang nantinya akan diberikan kepada yayasan pendidikan tersebut.
Setelah acara penggalangan dana selesai. Kami disibukkan oleh latihan-latihan tarian yang akan dilombakan dalam ajang lomba seni sastra dan budaya yang sebelumnya di rancang bersama kami latihan dengan keras dan tanpa putus asa demi menyabet kejuaraan itu.
Hari berganti demi hari, waktupun terus begulir dua minggu sudah berlalu dan aku mendengar kabar berita yang menggembirakan sekali karena hasil karya apresiasiku menang dan dipublikasikan di masyarakat umum dan situs-situs jejaring sosial, serta aku menyabet juara I. oh.. Tuhan ini adalah suatu hadiah bagiku dan yang lebih menggembirakannya lagi, adalah kelompok di sekolah menang tarian budaya juga dan menyabet gelar “The Best Dance II” wah sungguh, Tuhan… terima kasih atas semuanya yang engkau telah berikan padaku dan semuanya dan telah mendengar doa-doa dan harapanku selama itu.
Hari itu adalah hari selama dan sepulang sekolah aku dan kawan-kawan OSIS ku lainnya beserta guru pembimbing pergi untuk memberikan bantuan kepada yayasan pendidikan yang letakya tak jauh dari sekolah kami. Dengan hadiah-hadiah dan sedekah yang sudah dipersiapkan dan di beri jauh-jauh hari dari koin penggalangan dana waktu itu.
Setelah sampai kamipun di sambut ramah namun dengan rada kebingungan dengan orang-orang bule, chienese dan arab. Serta para anak-anak jalanan yang ada di tempat tersebut. Betapa terkejutnya kami semua setelah melihat itu seisi ruangan yang sederhana, buku-buku yang biasa dan para anak-anak jalanan yang sedang belajar dengan orang asing. Kami semua seperti sedang bermimpi buruk kemudian kita menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kita semua dan betapa bahagianya mereka mendengar dan menerima apa yang kami berikan.
Dan akupun segera membuka tasku dan ku ambil amplop besar berisikan uang tunai sebesar Rp 3.500.000,- kepada bule itu bernama Catherine, sebagai ketua yayasan pendidikan itu uang hasil karya dan usahaku yang ku berikan kepada generasi-generasi penerus bangsa untuk pendidikan mereka sungguh senang berlipat lipatnya hatiku ii, bahkan tidak dapat diucapkan melalui kata-kata ataupun di tulis menggunakan kalimat.
Aiman yang ada disebalahku pun kemudian ikut memberikan amplop berisi uang atas kemenangan perlombaan seni sastra dan budaya yang sama sepertiku namun beda seni dan itu adalah uang kemenangan bersama termasuk aku lalu Aiman dengan mengangkat amplop berisikan uang Rp. 5.000.0000,- sembari berkat-kata setuju gag? Kalo uang ini kita kasihkan kepada mereka anak jalanan atau mereka yang membutuhkan dan untuk perkembangan yayasan ini kelak?! Perintahnya “setuju!” kata Lisa “setuju” sahut Linda “setuju banget!” jawab syahril dan Kevin “setuju!!” sambungan Anita “setuju betul…!!” lanjut Adi,. Dan “setuju!!” jawab mereka semua serentak.
Entah apa yang harus aku ungkapkan di situ dan hanya satu yang dapat keluar di mulutku “setuju juga!!” jawabku. Tak kusangka mereka juga memiliki rasa peduli, berbagi dan jiwa sosial yang tinggi dan memiliki suatu harapan dan keinginan yang sama seperti kita.
Mataku berkaca-kaca dengan apa yang aku lihat dan aku lakukan hatiku sangatlah berbunga-bunga berbalut kesenangan dan lebih bahagia lagi melihat senyum-senyum anak bangsa yang saling berbagi keindahan !!
Kebahagiaan itu kamu rayakan bersama dengan menghiasi ruangan itu dan menata tempat-tempat itu agar terlihat cantik dan berdoa bersama serta berfoto ria bersama. Uang hasil usaha dan karya kita semua, semoga dapat bermanfaat bagi yayasan pendidikan yang sederhana ini. Dibalik kebahagiaan yang menyelimuti akupun juga masih malu dengan orang-orang asing pendiri dan pembimbing yayasan itu.
Kini aku dan teman selalu ke sana, apabila memiliki waktu luang, untuk sekadar berbagai ilmu, pengetahuan, pengalaman, kebahagiaan, cerita suka dan duka, dan untuk mengetahui perkembangan yang ada pada mereka dan yayasan mereka yayasan mereka bernaung mendapat ilmu.
Dan kini pemerintah dan warga sekitar semakin hari semakin memperhatikan yayasan itu dan memberikan hak kepada anak-anak bangsa yang kurang beruntung serta mengerti akan pentingnya pendidikan untuk kemajuan dan kualitas bangsa kelak. An sekarang jumlah anak jalan yang terlantar, jumlah anak di bawah umur yang bekerja, serta jumlah anak yang putus sekolah di kotaku sudahlah berkurang sedikit demi sedikit.
Tuhan, terima kasih atas apa yang telah engkau berikan aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan ini dengan kata-kata ataupun tulisan. Namun hanya ucapan syukur yang dapat ku panjatkan padamu serta senyuman manis-manis anak bangsalah yang menginspirasikanku atas semuanya. Semoga cita-cita dan harapan mereka tercapai untuk mewujudkan bangsa ini agar menjadi lebih baik. Dan terima kasih ku kepada orang-orang asing itu yang telah memperhatikan pendidikan anak bangsa ini tanpa imbalan apapun. “so thank you so much!!”
Mungkin itu hanyalah segelincir cerita dari keadaan pendidikan di negeri zamrud khatulistiwa ini. Semoga dapat menginspirasikan dan bermanfaat untuk daerah-daerah Nusantara lainnya perjuangkanlah anak-anak bangsa karena merekalah penerus bangsa yang indah ini.
good job! @_@...
BalasHapussaya terkesan. dek fhinna sekolah dimana?
haha aduh kak biasa aja, itu tulisan jaman smp -_-
Hapus